Akalasia: Gejala dan Pengobatannya

16 Mei 2018 18:00:26
By : Claudia Ramadhani Akalasia: Gejala dan Pengobatannya

Kesulitan dalam menelan makanan bahkan minuman, bisa jadi Anda terkena akalasia. (Foto: health.com)

Akalasia merupakan suatu kondisi penyakit yang jarang ditemukan di mana terjadi gangguan pada kerongkongan (esofagus) untuk mendorong makanan dan minuman dari mulut ke lambung.

Otot bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES) menjadi penghubung antara esofagus dengan perut. Ketika dalam kondisi tidak menelan, LES akan tetap tertutup untuk mencegah makanan, minuman dan asam lambung kembali ke kerongkongan. Ketika menelan, sinyal dari saraf akan memberitahu otot agar berkontraksi sehingga dapat mendorong makanan ke kerongkongan, hal ini memungkinkan LES untuk terbuka.

Namun, pada orang dengan akalasia, sel-sel saraf pada dinding kerongkongan dan LES mengalami gangguan. Hal ini kemudian menyebabkan LES tidak membuka dan menutup secara normal. Akibatnya, makanan akan menumpuk pada bagian bawah kerongkongan atau naik kembali ke pangkal kerongkongan.

Akalasia biasanya terjadi pada seseorang dengan usia antar 25 hingga 60 tahun. Gejala akalasia sangat jarang ditemukan pada usia anak. Gejala akalasia cenderung ringan pada awalnya, kemudian akan memburuk selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Gejala utamanya ialah terjadi kesulitan dalam menelan makanan padat, lalu seiring berkembangnya gangguan, juga mulai sulit menelan cairan. 

Gejala lainnya termasuk:
- Rasa tidak nyaman atau timbul nyeri di bagian dada terlebih setelah makan. - Batuk yang muncul ketik sedang berbaring.
- Sering mulas hingga menyebabkan berat badan turun.
- Sering memuntahkan baik makanan atau minuman.

Pengobatan pada pasien akalasia ditujukan agar LES kembali terbuka dan bekerja dengan normal. Beberapa perawatannya antara lain:

Dilatasi pneumatik

Perawatan ini akan bekerja dengan meregangkan otot LES. Sebuah tabung tipis dimasukkan ke tenggorokan. Di bagian ujung tabung, ada sebuah balon yang belum berkembang. Balon baru akan mengembang ketika tabung mencapai otot LES. Dilatasi pneumatik memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi bagi pasien akalasia.

Operasi

Pada otot LES, akan diberikan sayatan kecil untuk membantunya tetap rileks. Hal ini biasanya dapat dilakukan melalui laparoskopi, yang secara realtif menjadi prosedur bedah kecil. Karena LES dipotong sebagian, ada beberapa orang yang mengalami gejala refluks gastroesofageal setelah menjalani operasi ini.

Botulinum toxin

Sejumlah kecil botulinum toxin tipe A akan disuntikkan ke otot LES. Botulinum ini akan membuat LES menjadi rileks yang kemudian akan membuatnya lebih mudah untuk dibuka. Karena efeknya bersifat sementara, perlu ada beberapa kali suntikan untuk menyembuhkan akalasia secara bertahap.

Obat-obatan

Beberapa obat-obatan tertentu dapat membantu mereka yang tidak bisa menjalani operasi dan juga tidak berhasil dengan terapi botulinum toxin. Sayangnya, obat-obatan ini hanya meredakan gejala akalasia sementara waktu saja.

 

Sumber: Siloamhospitals.com

Berita terkait