Benarkah Diabetes Dapat Mengakibatkan Kerusakan Saraf?

10 Januari 2018 11:15:11
By : Bebby Sekarsari Benarkah Diabetes Dapat Mengakibatkan Kerusakan Saraf?

Diabetes dapat menimbulkan berbagai permasalahan dalam jangka panjang, terlebih bila penderita diabetes tidak melakukan kontrol gula darah secara rutin atau teratur. Pasalnya, kadar gula darah yang tidak terkontrol dengan baik dan tetap dalam kondisi tinggi dalam waktu lama dapat menimbulkan komplikasi serius, yaitu kerusakan pada serabut atau serat-serat saraf tepi. Kerusakan ini di antaranya dapat terjadi pada tungkai, kaki, sistem pencernaan, saluran kemih, pembuluh darah, bahkan jantung, bergantung pada tingkat kerusakan saraf yang terjadi. Kerusakan saraf ini disebut diabetic neuropathy atau neuropati diabetik.

Jadi, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama menyebabkan dinding pembuluh darah (kapiler) lemah. Kondisi tersebut menyebabkan ketidakmampuan dalam memberi asupan oksigen dan zat-zat gizi pada saraf. Dampak selanjutnya, sel-sel saraf yang terdapat pada berbagai bagian tubuh itu pun menjadi rusak.

Mereka yang berisiko tinggi mengalami neuropati diabetik adalah:
1. Penderita diabetes dalam jangka waktu lama disertai kadar gula darah yang tidak terjaga atau terkontrol dengan baik. Biasanya penderita yang sudah mengalami diabetes lebih dari 10 tahun.

2. Penderita diabetes yang mengalami gangguan ginjal  sehingga racun dalam darah meningkat dan dapat menimbulkan kerusakan saraf.

3. Penderita diabetes yang merokok. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan arteri menyempit dan mengeras, sehingga aliran darah ke kaki jadi berkurang.

Gejala yang terjadi bisa ringan atau berat bergantung pada kategori neuropati diabetik yang dialami. Dikategorikan ringan apabila yang terkena adalah selubung saraf tepi. Namun bila sudah merusak inti saraf tepi, maka gangguan atau gejala yang dialami akan lebih berat.

Beberapa gejala yang dapat terjadi apda penderita neuropati diabetik adalah:
1. Kebas atau kesemutan di kaki atau tangan.  Kesemutan biasanya mulai dirasakan pada ujung-ujung jari kaki, kemudian dialami juga pada ujung-ujung jari tangan.

2. Rasa panas atau nyeri di telapak kaki atau jari-jari kaki. Umumnya, rasa nyeri terjadi di malam hari. Bisa juga terasa sensasi seperti terbakar, tertusuk. Pada tahap lanjut, rasa ini akan dialami di telapak tangan dan jari-jari tangan.

3. Pada kondisi berat bisa mengalami kelemahan otot, biasanya di daerah telapak kaki, misalnya, sulit untuk menggunakan sandal jepit. Atau, kelemahan otot telapak tangan, misalnya, sulit menggenggam.

4. Refleks perabaan kurang berfungsi atau menurun, sehingga penderita mudah mengalami luka di tangan atau kaki. Ketika ada rasa panas mengenai tangannya, ia tak langsung merespons atau refleks menghindar.

5.Kesulitan mengontrol buang air kecil.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis atau menanyakan keluhan atau gejala yang dialami penderita. Bila penderita mengalami keluhan-keluhan yang mengarah pada neuropati diabetik, maka dilakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui penyebab dan tingkat keparahannya, serta dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya, seperti: 

1. Pemeriksaan kecepatan hantar saraf (KHS) untuk menilai kecepatan hantaran impuls saraf pada tangan dan kaki.

2. Pemeriksaan respons saraf terhadap perubahan suhu dan getaran.

3. Pemeriksaan sistem saraf otonom untuk mendeteksi terjadinya neuropati otonom pada pasien yang memperlihatkan gejalanya. Pada pemeriksaan ini dilakukan pengukuran tekanan darah penderita dalam berbagai posisi, serta dinilai juga kemampuan tubuh penderita untuk mengeluarkan keringat.

4. Tes filament untuk memeriksa kepekaan terhadap sentuhan.

Anda perlu segera ke dokter ketika mengalami  berbagai keluhan atau gejala.  Penting diketahui, neuropati diabetic dapat dicegah dengan menjaga kadar gula darah di rentang normal dan menjalani pola hidup sehat. Ikuti saran dokter Anda untuk pola hidup dan pola makan yang sehat. 

Berita terkait