Imunisasi Cara Paling Efektif Cegah Difteri

05 Desember 2017 15:30:00
By : Rianti Fajar Imunisasi Cara Paling Efektif Cegah Difteri

Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, penularan penyakit difteri dapat dicegah. (Pixabay/Whitesession)

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, dalam kurun waktu Oktober - November 2017, ada 11 provinsi yang melaporkan adanya kejadian luar biasa (KLB) difteri di wilayah kabupaten atau kotanya. Provinsi tersebut yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Dalam siaran persnya, Kemenkes menganjurkan masyarakat untuk memeriksa status imunisasi anak, untuk mencegah terjadinya difteri.

Masyarakat juga diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang batuk, dan segera berkonsultasi ke dokter bila ada anggota keluarga yang mengalami gejala difteri. Membiarkannya berlarut-larut hanya akan menambah jumlah penderita lainnya. Penyakit ini umumnya menyerang orang-orang dengan kekebalan tubuh yang rendah, terutama anak-anak.

Beberapa gejala difteri yang harus diwaspadai adalah demam yang tidak terlalu tinggi, munculnya selaput berwarna putih keabuan di tenggorokan, sakit saat menelan, pembesaran kelenjar getah bening di leher dan pembengkakan jaringan lunak leher, serta adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok. Untuk mencegah terjadinya KLB difteri yang berkepanjangan, sebenarnya pemerintah telah memiliki program imunisasi nasional.

Imunisasi untuk melawan difteri ada tiga jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah satu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya, diberikan Imunisasi Lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin DPT-HB-Hib. Pada anak sekolah tingkat dasar kelas satu diberikan satu dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas dua diberikan satu dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas lima diberikan satu dosis vaksin Td.

Keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95 persen. Sayangnya, di beberapa daerah di Indonesia masih banyak kelompok antivaksin yang menolak pemberian imunisasi untuk anak-anak mereka.

"Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk difteri", ungkap Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kemenkes, Oscar Primadi.

Berita terkait