Nyeri Ulu Hati Bisa Jadi Pertanda Penyakit Jantung

16 Juni 2017 14:30:00
By : Rianti Fajar Nyeri Ulu Hati Bisa Jadi Pertanda Penyakit Jantung

Segera periksakan ke dokter bila Anda mengalami nyeri ulu hati yang berulang. (Pixabay/Pexels)

Nyeri ulu hati merupakan keluhan yang banyak dialami. Namun sedikit yang menganggapnya sebagai suatu keluhan yang serius. Sebagian orang yang mengalami nyeri ulu hati hanya menganggapnya sebagai keluhan lambung yang biasa terjadi. Padahal nyeri ulu hati bisa jadi pertanda adanya penyakit jantung koroner (PJK).

"PJK disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner jantung yang membuat jantung kekurangan oksigen dan nutrisi untuk memompa darah," ucap Antono Sutandar, Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh darah, sekaligus wakil kepala Siloam Heart Institute (SHI), yang ditemui di Jakarta, Rabu (14/6).

Selanjutnya Antono menjelaskan bahwa penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner jantung terjadi karena adanya proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah yang berlangsung secara bertahap. Keluhan penderita PJK bervariasi, umumnya berupa nyeri dada yang dirasakan di daerah bawah tulang dada agak ke sebelah kiri dengan rasa beban berat, ditusuk-tusuk, rasa terbakar yang kadang menjalar ke rahang, lengan kiri, dan ke belakangan punggung, serta disertai keringat yang banyak.

Segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut. Semakin cepat terdeteksi maka Anda dapat segera mendapatkan pengobatan untuk memperbaiki kualitas hidup Anda. Salah satu pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi PJK adalah kateter.

Awalnya kateterisasi dilakukan untuk mengetahui keadaan pembuluh otot jantung, ruang jantung, ukuran tekanan dalam jantung, dan pembuluh darah otot jantung, dengan menggunakan selang kecil (kateter) dan sinar X di ruang kateterisasi. Selanjutnya, melalui kateter yang sama dapat dilakukan pemasangan stent atau peripheral component interconnect (PCI) untuk membuka penyempitan pembuluh darah koroner jantung. Stent memiliki diameter dua hingga empat milimeter yang elastis untuk disesuaikan dengan bentuk pembuluh darah koroner. Jumlah stent yang dipasang bergantung pada kondisi penyempitan jantung yang dialami pasien.

"Pada kondisi tertentu, operasi coronary artery bypass graft (CABG) lebih dianjurkan untuk membuat pembuluh darah baru dari aorta (pembuluh nadi besar) melewati pembuluh darah koroner yang menyempit sehingga otot-otot jantung mendapat pasokan darah yang cukup untuk kebutuhan kerja jantung,” jelas dr. Maizul Anwar, SpBTKV selaku kepala SHI.

Berita terkait