Salah Diagnosis Akibatkan Kanker Paru Terlambat Ditangani

12 Februari 2018 14:15:23
By : Bebby Sekarsari Salah Diagnosis Akibatkan Kanker Paru Terlambat Ditangani

Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker yang jarang disadari oleh penderitanya. Secara umum, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kanker ini masih sangat rendah. Akibatnya, beberapa penderita kanker paru ditemukan saat ia sudah menderita kanker paru pada stadium lanjut. Kondisi ini membuat penderitanya sulit bertahan.

Tak hanya kesadaran masyarakat yang masih rendah, kesalahan diagnosis juga menjadi penyebab terlambatnya diagnosis kanker paru. Penderita kanker paru seringkali didiagnosis menderita TB atau tuberkolusis. Sebuah studi di Rumah Sakit Moewardi, Surakarta, menunjukkan bahwa 28,7% pasien kanker paru mengalami kesalahan diagnosa dengan TB pulmonary dan memiliki sejarah pengobatan anti-TB, di mana 73,4% dari pasien tersebut telah menjalani pengobatan anti-TB selama lebih dari 1 bulan namun hanya 2,5% yang terdiagnosis ganda menderita kanker paru dengan TB pulmonary.

Menurut dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K), terdapat pedoman penanganan kanker paru, yaitu bila hasil BTA (pemeriksaan mikroskopis dalam dahak) negatif dan tidak respon terhadap pengobatan TB dalam jangka waktu satu bulan, maka penderita tersebut perlu melakukan pemeriksaan kanker paru. Itulah sebabnya, perlu kesadaran penderita juga untuk segera menindaklanjuti penyakitnya.

Sementara itu, salah satu cara untuk menghindari kanker paru adalah dengan mengendalikan faktor risiko kanker paru. Menurut dr. Niken Wastu Palupi, MKM, Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan Kelainan Darah, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI yang ditemui baru-baru ini Dialog Penatalaksanaan Kanker Paru Terbaru Guna Meningkatkan Kepedulian Masyarakat bersama AstraZeneca, beberapa faktor risiko kanker paru yang perlu diketahui antara lain:

1. Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan, yaitu usia, jenis kelamin dan genetik.

2. Faktor risiko yang dapat dikendalikan, yaitu kebiasan merokok, polutan indoor (asbes dan asap dapur), polutan outdoor (asap kendaraan, asap industri, kebakaran hutan dan lahan), penyakit paru kronis (TB paru dan PPOK), dan karsinogen di lingkungan kerja.

Dalam mengendalikan asap rokok, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan berhenti merokok, mencegah perokok pemula, membuat kawasan tanpa rokok dan peringatan bergambar pada kemasan rokok.

Berita terkait